Smart Farming Masuk Desa : KWT Godhong Ijo Manfaatkan Teknologi IoT untuk Pertanian

  • Mar 17, 2026
  • KIM Tunas Melati Ketonggo
  • Inovasi

Karangmojo, Gunungkidul – Inovasi teknologi digital mulai merambah sektor pertanian di tingkat desa. Anggota Kelompok Wanita Tani (KWT) Godhong Ijo Padukuhan Ngunut Lor, Kalurahan Kelor, Kapanewon Karangmojo, Kabupaten Gunungkidul kini mulai mengenal dan memanfaatkan teknologi Internet of Things (IoT) sebagai alat bantu dalam mengelola kegiatan budidaya tanaman. Pengenalan teknologi tersebut diharapkan mampu mendorong terciptanya sistem pertanian yang lebih efisien, modern, serta berbasis data, sehingga dapat meningkatkan produktivitas sekaligus memperkuat ketahanan pangan di tingkat masyarakat.

Pemanfaatan teknologi IoT ini merupakan bagian dari program pengabdian kepada masyarakat Universitas Sanata Dharma (USD) yang berhasil memperoleh Hibah Program Kemitraan Masyarakat (PkM) dari Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM) Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi pada tahun 2025. Program tersebut dirancang untuk membantu kelompok tani menghadapi berbagai tantangan yang selama ini dihadapi, mulai dari rendahnya produktivitas pertanian, keterbatasan pengelolaan usaha, hingga akses pasar yang masih terbatas.

Tim pengabdi dari Universitas Sanata Dharma yang terlibat dalam kegiatan tersebut terdiri dari Gabriel Anto Listianto, Damar Widjaja, dan Eko Hari Parmadi. Melalui kegiatan pendampingan ini, tim berupaya memberikan solusi melalui pengadaan teknologi pertanian sederhana, pelatihan penggunaan alat digital, serta pendampingan manajemen usaha bagi kelompok tani.

“Kami melihat ada tiga permasalahan utama yang dihadapi kelompok, yakni rendahnya produksi pertanian, belum adanya sistem pencatatan dan pelaporan keuangan yang baik, serta pasar yang masih terbatas pada lingkup lokal. Program ini hadir untuk menjawab persoalan tersebut melalui pendekatan teknologi dan pendampingan usaha,” ujar Gabriel Anto Listianto, salah satu anggota tim pengabdi.

Program pengenalan teknologi IoT kepada anggota KWT Godhong Ijo dilaksanakan melalui kegiatan edukasi, diskusi, serta praktik langsung di lapangan yang melibatkan seluruh anggota kelompok. Metode pembelajaran dirancang secara sederhana dan aplikatif agar mudah dipahami oleh peserta yang sebagian besar belum terbiasa menggunakan teknologi digital dalam kegiatan pertanian.

Dalam sesi awal kegiatan, para anggota kelompok diperkenalkan dengan konsep dasar Internet of Things (IoT) dan bagaimana teknologi tersebut dapat diterapkan dalam aktivitas pertanian sehari-hari. Diskusi berlangsung secara interaktif sehingga para peserta dapat memahami hubungan antara perangkat digital dengan proses pengelolaan tanaman yang mereka lakukan di pekarangan rumah maupun lahan kelompok.

Penerapan teknologi IoT dalam kegiatan ini juga didukung oleh ketersediaan jaringan internet dari KOMINFO Gunungkidul yang bersumber dari Dana Keistimewaan Daerah Istimewa Yogyakarta, serta dukungan dari Dinas Pertanian Kabupaten Gunungkidul. Infrastruktur jaringan ini menjadi salah satu faktor penting yang memungkinkan teknologi digital dapat dimanfaatkan secara optimal di tingkat masyarakat desa.

Dukuh Ngunut Lor, Agus Sunaryo, menjelaskan bahwa teknologi IoT bekerja dengan memanfaatkan perangkat sensor yang mampu membaca kondisi lingkungan secara otomatis. Sensor tersebut dapat mendeteksi berbagai parameter penting yang memengaruhi pertumbuhan tanaman, seperti tingkat kelembapan tanah, suhu lingkungan, serta kondisi lahan secara umum.

Data yang diperoleh dari sensor kemudian dikirimkan melalui jaringan internet ke perangkat pemantau seperti telepon genggam atau komputer. Dengan sistem tersebut, petani dapat memantau kondisi lahan tanpa harus selalu berada di lokasi kebun.

“Melalui teknologi ini, petani dapat mengetahui kondisi tanaman secara lebih cepat dan akurat. Informasi mengenai kelembapan tanah maupun kondisi lingkungan dapat dipantau secara langsung melalui perangkat digital,” jelas Agus Sunaryo.

Selama proses pengenalan teknologi berlangsung, para anggota kelompok menunjukkan antusiasme yang tinggi. Beberapa peserta bahkan mencoba secara langsung perangkat sensor yang diperlihatkan oleh tim pengabdi. Diskusi yang berlangsung juga diwarnai berbagai pertanyaan mengenai manfaat teknologi tersebut bagi kegiatan menanam sayuran di pekarangan rumah. Setelah memahami konsep dasar teknologi IoT, kegiatan dilanjutkan dengan demonstrasi penggunaan sensor pemantau tanah yang dipasang pada media tanam. Sensor tersebut berfungsi untuk memantau kondisi tanah dan lingkungan tanaman secara langsung.

Perangkat sensor yang digunakan mampu membaca tingkat kelembapan tanah yang menjadi salah satu faktor penting dalam pertumbuhan tanaman. Informasi yang dihasilkan kemudian dikirimkan ke perangkat pemantau sehingga petani dapat mengetahui kondisi tanah secara lebih akurat. Dengan adanya teknologi ini, petani tidak lagi harus menebak kondisi tanah hanya berdasarkan pengamatan visual atau pengalaman semata. Data yang dihasilkan oleh sensor dapat membantu menentukan waktu penyiraman yang tepat sehingga kebutuhan air tanaman dapat terpenuhi secara optimal.

Selain itu, teknologi IoT juga memungkinkan pemantauan kondisi lingkungan secara real time, seperti suhu udara dan kelembapan lahan, yang sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan tanaman. Informasi ini membantu petani mengambil keputusan yang lebih tepat dalam proses budidaya.

Dalam kegiatan tersebut, anggota KWT Godhong Ijo mencoba memanfaatkan teknologi sensor secara sederhana pada tanaman sayuran yang ditanam di sekitar pekarangan rumah. Percobaan ini menjadi langkah awal bagi kelompok dalam mengenal konsep pertanian berbasis data, di mana setiap keputusan dalam perawatan tanaman didukung oleh informasi yang dihasilkan oleh perangkat teknologi. Selain pemantauan kondisi tanah, teknologi IoT juga diperkenalkan melalui penerapan sistem penyiraman tanaman otomatis. Sistem ini bekerja dengan memanfaatkan data dari sensor kelembapan tanah yang terhubung dengan perangkat pengendali pompa air.

Ketika sensor mendeteksi kondisi tanah dalam keadaan kering, pompa air akan aktif secara otomatis dan menyalurkan air melalui selang atau sprinkler menuju area tanaman. Sebaliknya, jika kondisi tanah telah mencapai tingkat kelembapan yang cukup, sistem akan menghentikan proses penyiraman secara otomatis. Teknologi penyiraman otomatis ini memberikan berbagai manfaat bagi petani. Selain mampu menghemat waktu dan tenaga, sistem ini juga membantu penggunaan air menjadi lebih efisien. Air hanya dialirkan ketika tanaman benar-benar membutuhkan sehingga potensi pemborosan selama proses penyiraman dapat diminimalkan.

Bagi kelompok tani yang sebagian besar mengelola lahan pekarangan, teknologi ini dinilai sangat membantu karena dapat diterapkan dalam skala kecil dengan cara kerja yang relatif sederhana. Pemanfaatan teknologi IoT mulai memberikan perspektif baru bagi anggota KWT Godhong Ijo dalam mengelola kegiatan pertanian. Teknologi yang sebelumnya dianggap rumit kini mulai dipahami sebagai alat bantu yang dapat meningkatkan efektivitas pengelolaan lahan.

Ketua KWT Godhong Ijo, Anis Noviantari, menyampaikan apresiasi atas program pendampingan yang dilakukan oleh tim pengabdian Universitas Sanata Dharma. Menurutnya, kehadiran teknologi IoT memberikan kemudahan bagi anggota kelompok dalam mengelola lahan pertanian.

“Melalui penerapan teknologi IoT ini, kami sangat terbantu dalam mengolah lahan pertanian. Kebutuhan air bisa dikontrol dengan sensor, pekerjaan menjadi lebih ringan, dan hasil panen diharapkan dapat meningkat,” ujar Anis Noviantari.

Para anggota kelompok juga mulai menyadari bahwa pemantauan kondisi tanaman yang lebih teratur dapat membantu menjaga kesehatan tanaman. Tanaman yang mendapatkan perawatan tepat waktu memiliki peluang tumbuh lebih baik sehingga hasil panen dapat meningkat. Selain meningkatkan produktivitas, penerapan teknologi ini juga memberikan manfaat lain bagi masyarakat, di antaranya meningkatkan pengetahuan petani terhadap teknologi pertanian modern, mendorong efisiensi penggunaan air dan tenaga kerja, serta membuka peluang pengembangan usaha pertanian yang lebih berkelanjutan.

Melalui pengalaman bersama KWT Godhong Ijo Padukuhan Ngunut Lor, inovasi digital terbukti dapat diperkenalkan secara bertahap dalam kegiatan pertanian masyarakat. Dengan pendekatan edukasi yang sederhana dan praktik langsung di lapangan, pemanfaatan Internet of Things (IoT) menjadi langkah awal menuju sistem pertanian desa yang lebih modern, adaptif terhadap perkembangan teknologi, serta mampu mendukung peningkatan kesejahteraan masyarakat.

(KIM-GK/RFK)