Sekolah Rakyat Karya Makmur : Ruang Belajar Alternatif, Wujud Nyata Gerakan Literasi Masyarakat
- Nov 11, 2025
- KIM Tunas Melati Ketonggo
- Umkm, Kerajinan , Sosial Kemasyarakatan , Kepemudaan , Pendidikan
Di tengah arus digitalisasi dan tantangan pendidikan di pedesaan, hadir sebuah gerakan inspiratif dari masyarakat Kalurahan Sumberejo, Kapanewon Semin, Kabupaten Gunungkidul. Sekolah Rakyat Karya Makmur menjadi bukti nyata bahwa semangat belajar tidak selalu harus lahir dari ruang kelas formal. Program ini dipelopori oleh Kelompok Informasi Masyarakat (KIM) Tunas Melati Ketonggo berkolaborasi dengan Perpustakaan Sumber Ilmu Sumberejo sebagai wadah literasi, pembelajaran, dan pemberdayaan masyarakat desa.
Menumbuhkan Semangat Belajar dari Desa
Sekolah Rakyat Karya Makmur berawal dari keprihatinan terhadap keterbatasan akses pendidikan non-formal dan literasi masyarakat di pedesaan. Melalui pendekatan gotong royong, warga, tokoh masyarakat, dan relawan bersama-sama membangun ruang belajar terbuka yang inklusif untuk semua kalangan — mulai dari anak-anak, remaja, hingga orang tua.
Tidak ada batasan usia atau latar belakang. Semua orang berhak belajar, berdiskusi, dan berbagi pengetahuan.
Kolaborasi Literasi dan Informasi
KIM Tunas Melati Ketonggo berperan sebagai penggerak informasi dan media edukatif, sedangkan Perpustakaan Sumber Ilmu Sumberejo menjadi pusat literasi dan penyedia bahan bacaan. Kolaborasi ini melahirkan kegiatan belajar kreatif seperti:
-
Kelas Literasi Dasar: Membaca, menulis, dan mendongeng untuk anak-anak.
-
Pelatihan Kewirausahaan Desa: Pengembangan usaha kecil dan keterampilan mandiri.
-
Diskusi Inspiratif: Forum tukar gagasan seputar pertanian, teknologi, dan sosial kemasyarakatan.
-
Belajar Digital: Pengenalan teknologi informasi dan penggunaan internet sehat.
Melalui kegiatan tersebut, masyarakat tidak hanya memperoleh pengetahuan, tetapi juga kepercayaan diri untuk berinovasi dan berperan aktif dalam pembangunan desa.
Pendidikan yang Membumi
Ciri khas Sekolah Rakyat Karya Makmur adalah pendidikan yang membumi. Materi pembelajaran disesuaikan dengan kebutuhan lokal masyarakat, seperti pengelolaan lahan pertanian, kerajinan tangan, hingga ekonomi kreatif desa. Dengan pendekatan ini, warga belajar hal-hal yang benar-benar relevan dengan kehidupan mereka sehari-hari.
Menjadi Inspirasi Gerakan Literasi Desa
Gerakan ini menjadi contoh bagaimana kolaborasi antar lembaga di tingkat desa dapat melahirkan perubahan nyata. KIM Tunas Melati dan Perpustakaan Sumber Ilmu membuktikan bahwa literasi bukan sekadar membaca buku, melainkan proses panjang untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat.
Berbeda dengan sekolah formal, Sekolah Rakyat Karya Makmur menekankan prinsip “belajar dari kehidupan, untuk kehidupan”. Materi yang diajarkan berangkat dari kebutuhan nyata masyarakat: mulai dari literasi dasar, keterampilan wirausaha, pengelolaan lingkungan, hingga pemanfaatan teknologi informasi desa.
Program ini mengajak warga untuk belajar bersama dalam suasana yang akrab dan setara. Tidak ada seragam, tidak ada ujian, yang ada adalah semangat gotong royong untuk saling menguatkan. Anak-anak muda belajar membuat konten digital dan menulis berita desa bersama KIM, ibu-ibu belajar mengelola produk UMKM, sementara petani berdiskusi tentang pertanian berkelanjutan.
Inilah pendidikan yang berakar pada budaya lokal — menghidupkan nilai guyub, andhap asor, dan tanggap ing sasmito — agar ilmu tak berhenti di ruang kelas, tetapi tumbuh di sawah, pasar, dan balai dusun.
Sekolah Rakyat Karya Makmur juga menjadi wadah memperkuat solidaritas sosial di tengah masyarakat. Di saat modernisasi kerap membuat warga sibuk dengan urusan pribadi, sekolah rakyat ini menghadirkan kembali kebersamaan khas desa.
Melalui kelas-kelas terbuka di balai dusun, diskusi malam di teras rumah warga, hingga praktik langsung di lapangan, semangat srawung dan gotong royong kembali hidup.
Program ini juga menjadi contoh nyata bagaimana informasi dan literasi dapat menjadi alat pemberdayaan masyarakat desa. Dengan pengetahuan yang cukup, masyarakat mampu memahami hak, mengakses peluang, dan ikut menentukan arah pembangunan desanya sendiri.
Harapan ke Depan
Sekolah Rakyat Karya Makmur diharapkan menjadi model pembelajaran alternatif yang berkelanjutan. Melalui semangat kebersamaan, diharapkan akan tumbuh lebih banyak “sekolah rakyat” di berbagai dusun, menjadi pusat pencerahan bagi generasi muda dan masyarakat pedesaan.
✨ Sekolah Rakyat Karya Makmur bukan hanya tentang belajar — tapi tentang menyalakan api pengetahuan, menumbuhkan kemandirian, dan mewujudkan desa yang cerdas serta berdaya. Di tengah hiruk pikuk arus globalisasi, Sekolah Rakyat Karya Makmur berdiri sebagai oase pembelajaran yang sederhana tapi bermakna. Gerakan ini menegaskan satu hal penting: desa bukan sekadar objek pembangunan, tetapi sumber inspirasi bagi kemajuan bangsa.
#ArtikelKIMFEST2025
Dikutip oleh Akun Sosial Media Instagram resmi KIM TUNAS MELATI KETONGGO :
https://www.instagram.com/p/DQ6ScXqE8T7/?igsh=MXF4cDFkbmF6bHhjNA==