Menabuh Warisan, Menyemai Generasi: Pelatihan Seni Karawitan SD di Sumberejo Hidupkan Napas Budaya Jawa

  • Jul 02, 2026
  • KIM Tunas Melati Ketonggo

Sumberejo – Denting bilah saron berpadu dengan tabuhan kendang dan gong menggema dari Pendopo Balai Kalurahan Sumberejo, Rabu (24/6/2025). Satu per satu siswa SD Negeri Sumberejo tampak fokus memperhatikan aba-aba pelatih sebelum mulai memainkan perangkat gamelan secara bersama-sama. Di balik irama yang mengalun, tersimpan sebuah ikhtiar besar untuk menjaga keberlangsungan seni tradisi Jawa melalui pembinaan generasi penerus sejak usia dini.

Komitmen tersebut diwujudkan Pemerintah Kalurahan Sumberejo melalui Pelatihan Seni Karawitan Tingkat Sekolah Dasar yang didanai dari Dana Keistimewaan (Danais). Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya pelestarian kebudayaan sekaligus penguatan karakter anak melalui pendidikan seni tradisional.

Pelatihan diikuti oleh siswa-siswi SD Negeri Sumberejo yang mendapatkan kesempatan mengenal lebih dekat seni karawitan, mulai dari pengenalan perangkat gamelan, teknik dasar menabuh, pemahaman irama dan tempo, hingga membangun kekompakan dalam memainkan gending secara berkelompok. Meskipun sebagian besar peserta masih berada pada tahap pemula, semangat dan antusiasme mereka terlihat sejak awal hingga akhir kegiatan.

Suasana pelatihan berlangsung penuh semangat. Sesekali terdengar arahan dari pelatih ketika peserta mencoba menyelaraskan tempo permainan. Irama yang pada awalnya terdengar sederhana perlahan berubah menjadi harmoni yang lebih padu seiring meningkatnya pemahaman para peserta terhadap teknik memainkan gamelan.

Narasumber sekaligus pegiat seni karawitan Kalurahan Sumberejo, Sutar, menjelaskan bahwa pembelajaran karawitan sejak usia sekolah dasar memiliki peran penting dalam membentuk kecintaan anak terhadap budaya daerah.

"Karawitan bukan sekadar belajar memainkan gamelan, tetapi juga belajar tentang kebersamaan, kedisiplinan, kesabaran, dan rasa saling menghargai. Nilai-nilai itulah yang ingin kami tanamkan kepada anak-anak sejak dini agar mereka tumbuh menjadi generasi yang mencintai budayanya sendiri," ujar Sutar.

Menurutnya, regenerasi pelaku seni menjadi tantangan yang harus dijawab melalui pembinaan yang berkelanjutan. Oleh karena itu, pelatihan semacam ini diharapkan mampu menjadi wadah lahirnya bibit-bibit seniman muda yang nantinya dapat melestarikan seni karawitan di tengah perkembangan zaman.

Selain mengasah keterampilan bermusik, kegiatan ini juga menjadi media pendidikan karakter. Setiap peserta dituntut mampu menjaga konsentrasi, memahami peran masing-masing instrumen, serta bekerja sama agar menghasilkan irama yang selaras. Filosofi tersebut mencerminkan kehidupan bermasyarakat, di mana setiap individu memiliki peran yang saling melengkapi demi terciptanya keharmonisan.

Pelaksanaan pelatihan melalui Dana Keistimewaan menjadi bentuk nyata komitmen Pemerintah Kalurahan Sumberejo dalam mengoptimalkan program pelestarian kebudayaan yang menyentuh langsung generasi muda. Investasi pada pendidikan seni sejak dini diyakini menjadi langkah strategis untuk memastikan warisan budaya Jawa tetap lestari dan berkembang di masa mendatang.

Melalui kegiatan ini, Kalurahan Sumberejo tidak hanya mengajarkan keterampilan memainkan gamelan, tetapi juga menanamkan rasa bangga terhadap identitas budaya lokal. Harapannya, para peserta kelak mampu menjadi generasi penerus yang tidak hanya memahami seni karawitan, tetapi juga berperan aktif dalam menjaga, mengembangkan, dan memperkenalkan kekayaan budaya daerah kepada masyarakat yang lebih luas.

Dari setiap denting gamelan yang dimainkan di Balai Kalurahan Sumberejo hari itu, tersirat sebuah harapan besar: tradisi tidak akan berhenti pada generasi sekarang, melainkan terus hidup dan mengalun melalui tangan-tangan muda yang siap menjadi penjaga warisan budaya bangsa.